Seolah tidak akan ada habisnya jika kita diminta untuk menuruti hobi. Seseorang, misalnya, bisa tahan seharian berada di depan komputer jika sudah asyik bermain game. Atau, Anda yang merasa punya hobi mendaki gunung mungkin terlalu risau menghadapi resiko buruk ketika memutuskan untuk mendaki. Begitu pun dengan penggila mobil remote control (RC), yang tidak mempedulikan berapa uang yang terkuras hanya untuk memenuhi hobi mahalnya itu. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: mendapatkan kepuasan. Disinilah alasan rasional seringkali tersingkirkan oleh faktor emosional!
Benarkah hobi hanya akan menguras kantong? Jika diamati, saat ini banyak hobi yang bisa dijalankan dengan dukungan fulus yang tebal. Sebagai contoh, para penggila burung. Mereka akan menghargai seeokor burung dengan nilai yang tidak masuk akal. Coba Anda pikirkan, wajarkah seekor burung harganya disetarakan dengan mobil mercy keluaran terbaru? Tentu ada yang menjawab: mustahil! Tapi itulah faktanya, seorang pejabat di lingkungan BUMN yang gemar memelihara burung merelakan mobilnya untuk ditukar dengan burung yang konon ‘sering juara’ dan bersuara merdu.
Atau Anda mungkin salah seorang penggemar tanaman Anthurium. Tanaman yang dulunya digunakan sebagai penghias taman raja-raja ini sempat menggegerkan para hobiis atau orang-orang yang memiliki hobi mengoleksi tanaman hias. Harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Untuk memperolehnya, mereka bahkan rela menyambangi ke berbagai pelosok daerah. Tidak ada perasaan terpaksa karena semua itu dilakukannya berdasarkan perasaan suka.
Hobi ternyata sanggup menelan dana berapapun jumlahnya. Dari sisi positif, hobi sejatinya juga bisa dimanfaatkan untuk meraup dana yang juga tak terhitung jumlahnya. Dengan catatan pemilik hobi bisa memolesnya menjadi bisnis yang menguntungkan. Banyak pebisnis yang sukses mengawali usahanya dengan bermodal hobi. Ada yang punya hobi mengoleksi barang antik, kemudian meretas menjadi pengusaha yang menjual barang-barang antik. Ada juga yang senang memelihara ikan, kemudian menjadi pengusaha ikan hias. Bahkan ada ibu rumah tangga yang hobi memasak dan mencoba resep-resep baru kemudian berubah menjadi pengusaha katering terkenal.
Hobi memang mudah dilaksanakan. Bahkan kata yang tepat, hobi sulit untuk ditinggalkan. Usaha-usaha yang diawali dari hobi umumnya akan berakhir sukses. Hal ini karena mereka begitu menyukai aktivitas yang dilakukannya dan bersemangat untuk terus belajar menyempurnakan kemampuannya. Tak hanya itu, sebagian besar dari mereka umumnya sangat sangat memahami seluk beluk dari bisnis digeluti. Tidak hanya sebatas mengetahu barang-barang berkualitas baik, tapi juga soal harga maupun proses pemasarannya.
Bergelut dibisnis berbasis hobi banyak enaknya. Mereka tak perlu lagi bersusah payah mengedukasi pasar. Orang-orang di komunitas ini rata-rata memiliki pengetahuan yang memadahi tentang produk yang ditawarkan. Nah, tinggal bagaimana pelaku bisnis ini bisa mencari barang yang sesuai dengan keinginan konsumen. Umumnya, konsumen tidak terlalu banyak berhitung, asalkan barang tersedia uang bisa langsung diterima.
Bukan rahasia lagi jika nilai transaksi yang dihasilkan dari bisnis ini cukup menggiurkan. Para kolektor barang antik misalnya, berani menggelontorkan uang miliaran rupiah hanya untuk mendapatkan peninggalan dari tokoh-tokoh terkenal yang sudah meninggal. Sekedar informasi, sebuah jaket yang dikenakan Michael Jackson dalam tour "Bad" di tahun 1989, terjual dengan harga 225 ribu dolar. Sedangkan topinya terjual dengan harga 22 ribu dolar pada lelang yang berlangsung di New York beberapa waktu lalu.
Meski peluangnya begitu terbuka, tapi tidak semua hobi bisa direalisasikan menjadi bisnis. Ada beberapa ciri-ciri yang bisa dijadikan acuan. Sebuah hobi yang tetap menyenangkan meski dijalankan berulang-ulang atau terus menerus cukup layak jika dibawa ke ranah bisnis. Sebaliknya, jika seseorang merasa cepat bosan terhadap aktivitas tersebut maka kegiatan yang selama ini dijalankan mungjkin bukan hobi yang sesungguhnya. Sehingga belum waktunya jika hobi itu hendak dijaikan bisnis. Jika dipaksakan maka kemungkinan akan terhenti di tengah jalan cukup besar.
Beberapa hobi mungkin memiliki nilai jual tinggi. Namun sebagian lain tidak terlalu dibutuhkan pasar. Agar bisa mendapat penilaian yang obyektif perlu dilakukan penelitian pasar terlebih dulu. Apakah banyak peminat atau hobi tersebut justru tidak memiliki penggemar sama sekali. Jika menemukan fakta terakhir sebaiknya tidak perlu dipaksakan daripada hasil yang diperoleh nihil nantinya.
Yang tidak kalah pentingnya, hobi yang dipilih seseorang harus mampu memotivasi untuk terus ditekuni dalam rentang waktu antara 10 tahun-15 tahun yang akan datang. Semestinya usaha yang kelak akan dijalankan bisa tetap menarik meskipun telah berlangsung puluhan tahun. Jika seseorang mulai kehilangan minat terhadap hobi itu, maka itu bisa menjadi tanda awal kebangkrutan usaha. Untuk itu sudah selayaknya seseorang jeli dalam menilai semenarik apa hobi yang dimiliki sehingga mampu bertahan hingga puluhan tahun lamanya.
Dini Surono, produsen tas merk Ciciero ini juga memulai bisnisnya dari hobi. Sama seperti perempuan lain, Dini senang mengoleksi tas. Ia dikenal memiliki gaya dan selera yang berbeda saat mengoleksi tas-tas kesukaannya. Setiap Dini memiliki koleksi tas baru rekan-rekannya sudah bersiap mengincar untuk untuk memilikinya. Tas pun akhirnya direlakan berganti kepemilikan.
Saat mengetahui dirinya selalu menjadi trend setter unuk urusan tas wanita , Dini mulai mencoba mendesain tas sendiri. Ia makin percaya diri ketika hasil karyanya mendapat apresaiasi dari rekan-rekannya. Dan mulailah muncul pemikiran untuk serius menerjuni dunia bisnis. “tahun 2008, saya mulai serius menggarap konsep maupun desainnya,” ujarnya. Usia yang terus bertambah membuat Dini tidak punya banyak pilihan: apakah bisnis ini akan dijalankan dengan main-main ataukah bisa dijadikan sebagai pegangan hidup.
Dini memilih serius menekuni usaha barunya itu. Dari tempat produksi yang bermarkas di kawasan Prapanca, Jakarta Selatan, ia mampu meproduksi sebanyak 300 tas ‘limited edition’ setiap bulannya. Tas tersebut diberi label Ciciero yang sepintas terkesan seperti merek luar. Dini beralasan secara psikologis orangIndonesia menyukai hal-hal yang berbau luar negeri. “Jadi dengan memberi label Ciciero yang merupakan produk lokal tapi berbau Eropa telah memberi kejutan tersendiri,” ungkapnya.
Seperti dijelaskan a sengaja memproduksi tas denga jumlah terbatas. Satu model satu warna (kadangkala, satu model 3–5 warna, red.). Sedangkan kuantitas barang yang diproduksi untuk satu model tidak lebih dari 24 pieces. Inilah yang membuat produknya tetap menjadi incaran. Pasalnya, banyak wanita merasa gengsi jika memiliki barang ‘sejuta umat’. Kini, tas yang dibanderol seharga Rp170 ribu-Rp320 ribu iini sudah menyebar ke beberapa kota di Indonesia.
Setali tiga uang dengan Bimo Hermawan. Ia mampu memanfaatkan hobinya sebagai mantan pembalap atau crosser untuk menerjuni bisnis di bidang otomotif. Selepas pensiun jadi pembalap Bimo mulai mengenal motor Harley Davidson. Ketika itu jenis motor ini dipandang cukup bergengsi dan identik dengan kalangan orang berduit. Perkenalannya dengan motor gede (moge) ini justru lewat orang tuanya yang merupakan mekanik motor herley tersebut. Maka ia mulai mengasah ketrampilannya mengutak-atik moge.
Ketika melanjutkan pendidikan ke Jakarta, hobi tersebut terus dibawa. Namun di kota metropolitan ini ia kesulitan menemukan bengkel moge yang mumpuni. Tak ada jalan lain, ia terpaksa turun tangan mengerjakan sendiri jika ada kerusakan pada moge miliknya. Beberapa rekannya terpikat dengan kemampuannya tersebut. Maka satu per satu menjadi langganannya. Sampai suatu saat ia mendapat tawaran kerjasama untu menjalankan bengkel moge beserta perlengkapan asesoris yang dibutuhkan. Ternyata kerjasama ini tidak bertahan lama, karena muncul kesalahpahaman diantara kedua pihak.
Kevakuman itu tidak bertahan lama, karena kecintaannya pada moge sudah menjadi bagian dari dirinya. Meski saat itu masih dalam situasi krisis, tahun 1998 Bimo membangun kembali bengkel moge miliknya yang diberi label Bimo Customebike. Di bengkelnya ia menangani 80% pekerjaan modifikasi sedangkan sisanya hanya ganti oli dan tune up.
Pekerjaan modifikasi yang dilakukan pun tidak sebatas fisik. Tapi juga menjangkau mesin-mesinnya. “Orang lebih mengenal bengkel hanya modifikasi. Sementara dibengkel saya ini banyak yang bisa saya bikin, misalnya engine upgrade, dari mesin standar jadi performance, dari mulai mesin jelek saya kosmetik jadi seperti baru,” ujar Bimo berpromosi.
Dalam setahun dengan dibantu 15 karyawannya, Bimo mampu menangani sekitar 20 moge. Jumlah ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan bengkel motor biasa yang dalam sebulan bisa mencapai ratusan motor. Rata-rata pengerjaan moge memakan waktu hingga dua bulan. Karena untuk mengimpor spare part yang dibutuhkan memerlukan waktu lebih dari dua minggu. Sudah tentu biaya servis yang dikenakan kepada customer pun tidak kecil. Mereka mesti merogoh kocel mulai dari Rp100 juta hingga tak terhingga, tergantung dari keinginan si customer.
Harga tersebut tentunya sebanding dengan kualitas yang diberikan. “Quality saya jamin, jika chassis bikinan saya patah, saya berani jamin ganti ulang itu chassis. Saya menjamin apa yang saya bikin. Termasuk jika mogok dimanapun akan saya kejar,” ujar Bimo yang memiliki sub dealer di Yogya, Bali, Medan, Samarinda, Makasar ini.
Keuletan menekuni hobi juga ditunjukkan oleh Lucy Juliana Sapri. Wanita yang akrab disapa Lulu ini memiliki hobi yang dekat dengan dunia anak-anak. Ia suka membuat pernak-pernik yang digunakannya ketika ada acara ulang tahun untuk anak-anak. Seperti name tag, undangan ulang tahun, hingga asesoris dari tokoh kartun dan binatang. Aktivitasnya yang semula hanya dijalankan secara amatiran, tiba-tiba harus dijalani secara profesional.
Lulu memang pernah menjajal meng-organizer sendiri acara ulang tahun anaknya. Tak disangka acara tersebut menarik perhatian sejumlah rekan dan kerabatnya. Mereka tertarik untuk buatkan acara serupa pada ulang tahun anak-anak mereka. Karena adanya permintaan inilah Lulu mulai terinspirasi untuk mengelolanya secara serius. Ia kemudian mendirikan sebuah kids party organizer yang diberi nama Hip Hip Hooray.
Keputusan Lulu mendirikan bisnis kids party organizer akhirnya berbuah manis. Permintaan untuk menggunakan jasa EO-nya terus berdatangan. Sebagian besar berasal dari wilayah Jakarta serta beberapa lainnya datang dari Lampung, Medan, Bandung. Guna memberikan pelayanan terbaik bagi para klien, kelahiran 4 Mei 1978 ini bahkan rela untuk turun langsung dari proses nego dengan klien hingga pelaksanaanya.
Ia merasa enjoy karena disanalah hobinya bermula. Menurutnya jika sebuah pekerjaan dilakukan berdasarkan hobi, seberat apapun beban yang ditanggung akan terasa ringan. “Banyak juga teman-teman yang heran, kenapa mesti turun tangan sendiri. Memangnya nggak punya anak buah,” ujar Lulu mengaku mampu meraup omset antara Rp20 jta-Rp50 juta setiap bulan.
Dengan berbagai pengalaman yang coba dibagi oleh sejumlah pengusaha diatas, semakin meneguhkan keyakinan bahwa hobi bisa di-create menjadi sebuah bisnis. Yang kini dibutuhkan tinggal bagaimana kita bisa memantau apakah bisnis yang sedang dijalani layak dijadikan bisnis. Jika ini bisa dijalankan, tentu akan menjadi nilai plus. Hobi tetap dijalankan uang pun bisa terus berdatangan. Selamat mencoba!